Kamis, 14 Oktober 2021

Ratih #4

 Cerbung

*Ratih*

A story by Nia Ahlam

Part 4


Suasana sepi kantor Puskesmas tempat dokter tampan bekerja, seakan memberikan kesempatan buat sang dokter tampan untuk menikmati lamunannya. 

Dua rekan kerjanya sedang ijin keluar mencari makan siang mereka. 

Pak Dokter, yang duduk dihadapan laptop kesayangan, ternyata mata dan pikirannya tidak singkron. 

Karena, saat bola mata beliau menatap screen laptop, yang terlihat selalu bayangan gadis misterius berbau rempah, ya, Ratih. 

Pertemuan yang tanpa disengaja selama minggu ini, benar-benar telah merebut perhatian sang dokter tampan pujaan kaum hawa saat itu. 

Entah rasa apa yang berkecamuk dalam dada sang dokter, penasarankah? 

Karena sebelum nya belum pernah dia rasakan. 

Dokter Galih memang terlalu pendiam, dingin terhadap teman wanita-wanita nya. 

Semasa kuliah pun, kerapkali membuat jengkel cewe-cewe yang terpesona olehnya, karena mereka hanya mendapat ignore. 

Sedangkan Galih hanya berpacu dengan prestasi dan gelar dokternya saja. 

Dia tidak jutek, justru rangkulannya yang selalu menganggap sahabat membuat para gadis mundur teratur. Jengkel dan malu. 

Itulah pribadi dokter Galih. 

Namun, yang kini terjadi sungguh diluar nalarnya, ada debaran indah dan aneh dia rasakan, saat mengingat Ratih, mungkinkah bersemi rasa cinta dihatinya? 

Mencintai apa? 

Mungkin mencintai bau rempah alami, sehingga berhasil meluluhkan hati cadas sang dokter. 

"Pokoknya, aku harus menemui mereka. Walaupun aku tak tahu alasan apa yang harus aku buat, yang penting aku bisa melihat Ratih, dan mencari tahu siapa sebenarnya mereka." Pak dokter berbisik pada dirinya sendiri. 

Untunglah Puskesmas sedang sepi pasien, sehingga walaupun hati pak dokter sedang galau, tidak khawatir melakukan salah prediksi penyakit pasien. 

Beberapa waktu berselang, Nani dan Siti sudah pulang dari beli makan siang mereka, mereka langsung pergi ke belakang tempat untuk karyawan makan. 

Saat melewati dokter mereka hanya menganggukan kepala dan tersenyum. 

"Nani, saya pamit keluar ya ada urusan. Kalau ada pasien memerlukan saya, kamu Whats App saja." 

Dokter Galih memutuskan untuk berangkat saat itu juga ke tepi hutan. 

"Baik Dok, dokter mau kemana memangnya?" 

Nani tukang gosip kepo akan kepergian sang idola yang tidak biasanya. 

"Hanya ada urusan kecil, tentang tanaman anggrek mumpung kantor sepi Nan." 

"Oh iya Dok, silahkan." Nani menjawab lagi sambil tersenyum. 

Dokter Galih pun beranjak dan meraih kunci motornya, tak lupa mengantongi hape yang sangat penting buatnya. Karena untuk urusan pekerjaan. 

Melajukan motor dengan kecepatan sedang, sementara di kepalanya sedang menyusun bagaimana nanti memulai percakapan dengan ibunya Ratih. 

Karena tak juga menemukan jalan keluar, dokter muda pun tersenyum pasrah, biarlah berjalan bagai air mengalir dengan semua restu sang Maha Pencipta. 

🍀🍀🍀

Lima belas menit, sampailah pak dokter ditepi hutan. 

Dia menghentikan motornya di pinggir jalan, mengunci stangnya. 

Karena harus berjalan lewat pematang sawah untuk sampai di rumah Ratih, yang persis ditepi hutan tersebut. 

Tidak terlalu jauh memang, cuma sekitar dua ratus meter saja. 

Dada nya semakin berdebar, antara bahagia berbaur dengan rasa cemas, tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. 

Sesampainya dihalaman gubuk yang sangat resik, asri dan membawa rasa nyaman, dokter Galih mengucap salam, karena suasana sangat sepi. 

Hanya gemericik suara pancuran dikolam ikan sebelah kanan gubuk tersebut. 

"Assalamualaikum!" 

"Waalaikumussalam," 

Salam dokter Galih cepat bersambut, karena memang rumah tersebut sangat kecil pastinya langsung terdengar dari dalam. 

Dan ibu Ratih selalu ada di tempat tak pernah kemana-mana. 

Wanita separuh baya itupun menguak daun pintu dan segera keluar, dengan hati penuh tanya.

Karena sangat jarang sekali ada orang yang mengunjungi mereka. 

"Siapa ya?" 

Ibu Ratih menatap dokter tampan tersebut penuh curiga. 

"Saya Bu, maaf mengganggu. Saya bekerja di Puskesmas desa ini, kebetulan saya ada perlu sedikit. Mungkin lebih tepat jika dibilang saya memerlukan bantuan ibu." 

Dengan sangat hati-hati dokter memulai pembicaraan, dia dapat menangkap rasa curiga di nada bicara tuan rumah. 

Tapi memang, saat menatap raut sang ibu, ada perasaan nyaman di jiwa pak dokter, serasa seperti dekat dengan mamanya sendiri. 

"Ehm, apa yang bisa saya bantu? Kami hanyalah orang yang terasing dan biasa hidup sendiri. Oh, silahkan duduk Nak." Ibu Ratih mempersilahkan dokter duduk di amben depan gubuk mereka. 

"Terima kasih Bu." 

Walaupun sedang bercakap-cakap dengan ibunya Ratih, dalam hati dokter bertanya-tanya, kenapa dia tak melihat keberadaan Ratih. 

Padahal ingin sekali bertemu dengan gadis tersebut. 

Namun, tak mungkin juga dia menanyakan kepada sang ibu. 

"Bu, saya mempunyai hobby dengan tanaman bunga Anggrek, kemarin-kemarin saya sempat mencari didalam hutan. Namun susah sekali, hanya mendapatkan dua buah saja. Barangkali ibu tahu sebelah mana saya bisa mendapatkan lebih, karena menurut warga kampung, hanya ibu dan putri ibu yang sangat memahami keadaan hutan ini." 

Begitu lancar semua kalimat yang terlontar dari mulut pak dokter, seakan alampun mendukung apa yang sedang dilakukan beliau. 

"Oh, sebenarnya saya tak begitu paham dengan kedalaman hutan, karena kami hanya menumpang hidup dari kemurahan alam semesta, khususnya hutan ini. Tapi kalau mengenai anggrek saya pun sangat menyayangi bunga yang satu ini. Mari ikut saya!" 

Ibu Ratih, malah mengajak dokter mengikutinya. 

"Baik bu” 

Dokter Galih beranjak membuntuti langkah wanita tersebut yang berjalan menuju arah belakang rumahnya, dan sungguh dokter tak menyangka sedikitpun, dia diajak menyaksikan puluhan pot bunga anggrek yang tersusun sangat indah. 

"Masya Allah Bu, sungguh taman yang sangat cantik." 

Dokter Galih terkagum-kagum sambil menikmati keindahan taman dihadapan nya. 

Mungkin ada lima jenis tanaman anggrek, yang masing-masing dengan warna bunga yang berbeda. 

"Nak, kenapa anda bisa tertarik dengan bunga anggrek?" 

"Entahlah Bu, saya sangat awam mengenai bunga, namun, ada rasa damai jika saya menatap anggrek bu." 

Dokter Galih jujur dengan apa yang dirasakan nya mengenai bunga anggrek. 

Kecintaannya terhadap anggrek adalah benar-benar hanya naluri yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 

"Yah, itupun yang ibu rasakan, satu hal yang ibu tahu, mereka akan tumbuh, berbunga dan bahkan berkembang biak, jika kita menyentuhnya dengan cinta kasih." 

Ibu Ratih benar-benar terdengar tulus mengungkapkan perasaan nya tentang bunga anggrek tersebut. 

"Ibuuuu... ibuuu.." 

Terdengar suara Ratih di halaman depan memanggil ibunya, karena tak didapati didalam rumah. 

"Iya nak, ibu dibelakang." 

Ratihpun berjalan kearah taman belakang, namun saat menatap siapa yang berdiri disebelah ibundanya, Ratih terperanjat dan berjalan mundur tanpa disadari. 

Tanpa sadar Ratih menginjak batu kecil dan terpeleset, repleks dokter meraih tubuh Ratih yang nyaris terjerembab kebelakang. 

Dalam hitungan detik Ratih sudah berdiri dan dokter melepaskan pegangannya, dan segera mundur menjauh dari Ratih, seraya mengangguk kepada sang ibu dan meminta maaf, 

"Maafkan saya lancang menyentuh anak ibu, saya hanya repleks karena melihat putri ibu mau terjatuh, sekali lagi maafkan saya." 

Terdengar betul-betul nada dokter agak ketakutan, dia tak menghendaki situasi pendekatannya gagal karena kejadian tersebut. 

"Oh, tak apa Nak. Malah ibu ucapkan terima kasih, kalau tadi anda tidak menolong anak saya pasti putri kesayangan saya sudah terluka karena terjatuh." 

Bersyukur sekali dokter mendengar jawaban yang diterimanya. 

Sementara Ratih, berjalan mendekati ibunya, sambil menunduk, tersipu. 

Tak pernah dia sangka, dokter tampan yang selalu menghiasi lamunannya akan ada didekatnya, bahkan sekali lagi merasakan sentuhan yang membuat badannya panas dingin. 

Ratih tetaplah seorang gadis, yang pasti sesuai kodratnya akan merasakan apa yang namanya gelora cinta. 

Walaupun dia tak pernah tahu apa itu cinta, dan apa nama debaran-debaran yang dirasakannya.

Yang jelas Ratih merasa sangat bahagia dengan kehadiran sang pencuri hatinya tersebut. 

Ibu Ratihpun entah mengapa merasa open buat anak muda tampan dihadapannya, padahal selama ini, beliau selalu hati-hati dan curiga terjadap semua makhluk yang bernama laki-laki.

Mungkin karena tujuan anak muda tersebut untuk mengetahui tanaman yang juga merupakan hobby beliau. 

"Ratih, sana bikin teh buat tamu kita!" 

"Baik Bu." 

Dengan riangnya gadis bertutup setengah wajah itu berjalan menuju kedalam gubuk mereka, dan dari belakang si ibu juga pak dokter kembali ke amben kayu didepan. 

"Maaf, siapa namamu Nak?" 

"Saya Galih Bu." 

"Asalmu darimana?" 

Ibu Ratih entah mengapa merasa tertarik dengan anak muda yang terlihat sangat sopan dan penuh etika tersebut, 

"Maaf, ibu hanya sekedar bertanya ya Nak."  

"Tentu Bu, tidak apa, malah saya merasa tersanjung ibu bersedia menyambut saya yang mungkin mengganggu waktu istirahat ibu." 

"Ibupun sangat berterima kasih, Nak Galih bersedia mengunjungi ibu. Kami hanya orang-orang terasing, yang bahkan sebagian orang merasa takut dekat dengan kami, katanya mereka takut kena kutuk seperti Ratih." 

Ibu Ratih berkata sambil tertawa penuh bahagia, karena merasa lucu dengan tingkah orang-orang yang memperlakukan mereka. 

"Nak Galih bekerja di Puskesmas, berarti Nak Galih dokter ya?" 

"Iya Bu," 

Pak dokter menyahut sambil menunduk, tadinya dia tak mau ibu Ratih tahu akan profesinya. 

Tak lama Ratih datang membawa nampan berisi teh manis hangat. 

Tanpa berkata apapun, dia meletakkan gelas teh tersebut di amben antara ibunya dan dokter. 

Dan Ratih kembali lagi kedalam rumah, ingin meredakan salah tingkahnya, dia memangku si hitam dan membelainya. 

"Silahkan diminum Nak dokter, maaf di sini tak ada suguhannya. Hanya teh saja." 

"Tak mengapa Bu, semua sudah cukup." 

Dokter Galih menyeruput teh manis tersebut. 

Terasa begitu nikmat, mungkin karena akhirnya dia bisa berada diantara orang-orang yang mencuri perhatiannya, dan mengganggu konsentrasi kerjanya. 

Sambil menikmati teh manisnya, dokter dan ibu Ratih, malah asyik bercerita. 

Tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam semesta. 

Akhirnya, habis juga teh manis buatan Ratih tersebut.


Next ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima-kasih atas kunjungan sobat. Silahkan berikan komentar anda (saran, pertanyaan, ataupun kritikan) untuk kemajuan blog ini dengan bahasa yang sopan.